K.H. Ahmad Dahlan: Reformis dan Pembaharu Ajaran Agama

“Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad”, itulah ajaran utama dari K.H.
Ahmad Dahlan. Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai sekarang. Ini juga reformasi yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan terhadap ajaran agama yang berlangsung saat itu di Jawa. Oleh karena itulah Ahmad Dahlan mengatakan ziarah kubur dan meminta kepada kuburan dilarang.

Ahmad Dahlan juga melarang penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak tapi pihak keraton tetap saja melakukan. Ahmad Dahlan juga hendak membetulkan arah kiblat di Masjid Keraton tapi pihak keraton menolak.

Ahmad Dahlan lalu berhenti dari pekerjaannya sebagai ‘ketib’ (khatib) keraton. Dahlan juga mereformasi sistem pendidikan pesantren yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya karena mengutamakan menghafal serta tidak merespons ilmu pengetahuan umum, Dahlan juga memurnikan agama Islam dari percampurannya dengan agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.

Karena gerakan reformasinya Ahmad Dahlan juga sering diteror seperti diancam dibunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang. Tapi Ahmad Dahlan Maju terus pantang mundur, ia merasa beginilah resiko pejuang reformasi atau dalam bahasa Arabnya disebut Mushlih (dari akar katanya Ishlah) atau pembaharu ajaran agama yang dalam bahasa Arabnya disebut Mujaddid. Sebenarnya siapakah Ahmad Dahlan yang pemberani dan keras kepala dalam menegakkan kebenaran ini?

Ahmad Dahlan dilahirkan di daerah Kauman kota Yogyakarta dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1869, sumber lain mengatakan tahun 1868. Memang kelahiran Ahmad Dahlan agak gelap tanggal pastinyapun tidak terlacak. Okelah kita tidak mempermasalahkan kelahirannya melainkan karyanya. Organisasi yang dia dirikan yaitu Muhammadiyah sekarang menjadi maju dan menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia dari segi anggotanya.

Ahmad Dahlan adalah anak seorang kyai tradisional yaitu K.H. Abu Bakar bin Kyai Sulaiman, seorang khatib di Masjid Sultan di kota itu. Ibunya Siti Aminah adalah anak Haji Ibrahim, seorang penghulu. Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari tujuh bersaudara.

Sebagaimana anak seorang kyai pada masa itu pemuda Darwis juga menimba ilmu ke banyak kyai. Ia belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Shaleh, ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa) kepada KH Muhsin, ilmu falak (astronomi) kepada KH Raden Dahlan, ilmu hadis kepada kyai Mahfud dan Syekh KH Ayyat, ilmu Al Qur-an kepada Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock, dan ilmu pengobatan dan racun binatang kepada Syekh Hasan.

Ia juga pernah sekamar dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) ketika beguru kepada KH Sholeh Darat di Semarang. Berarti juga Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan RA Kartini satu guru satu ilmu yaitu KH Sholeh Darat. Berarti gerakan Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan Gerakan Feminis berasal dari satu guru.
Sebagaimana gerakan Islam, Nasionalis, dan Komunis berasal dari satu guru yaitu HOS Tjokroaminoto.

Ketika berumur 21 tahun (1890), KH Ahmad Dahlan pergi ke tanah suci Mekkah untuk naik haji dan menuntut ilmu di sana. Ia belajar selama setahun. Salah seorang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.
Dahlan satu guru satu ilmu lagi dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Ia juga satu guru dengan Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. Kedua orang ini adalah pendiri gerakan “Kaoem Moeda” di Sumatra Barat. Haji Agus Salim juga berguru pada Syekh Ahmad Khatib. Agus Salim nantinya menjadi wakil ketua Sarekat Islam dan Pembina Jong Islamieten Bond. Jadi seluruh gerakan Islam di Indonesia yang menjadi mainstream sumbernya satu yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi yang menjadi Imam Masjidil Haram di Mekkah.

Dari Ahmad Khatib inilah Dahlan berkenalan dengan pemikiran trio pembaharu dan Reformis Islam dari Timur Tengah yaitu Sayid Jamaluddin Al Afghani, Syekh Muhammad Abduh, dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha.
Akhirnya Dahlan membawa gerakan Reformasi ini ke Indonesia.

Dahlan mulai mengintrodusir cita-cita reformasinya itu mulanya dengan mencoba mengubah arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya yaitu Barat Laut (sebelumnya ke Barat). Dahlan juga memperbaiki kondisi higienis di daerah Kauman bersama kawan-kawannya.

Perubahan-perubahan ini, walaupun bagi kita sekarang sangat kecil artinya, memperlihatkan kesadaran Dahlan tentang perlunya membuang kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan yang menurut pendapatnya memang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Jadi ia ingin membersihkan Islam dan umat Islam baik secara fisik (dengan membuat higienis kampungnya) maupun mental spiritual (dengan memberantas tradisi yang bercampur dengan ajaran Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, dan kebatinan).

Ahmad Dahlan berhasil membangun mushala yang tepat mengarah ke kiblat. Tapi ia gagal dalam mengubah posisi kiblat di masjid Sultan di Yogyakarta. Ia kecewa dan ingin meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Tetapi salah seorang keluarganya menghalangi maksudnya itu dengan membangun sebuah langgar
(mushala) yang lain, dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan dan mempraktekkan ajaran agama dan keyakinannya berdasarkan interpretasinya di sana.

Dalam tahun 1909, ia masuk Boedi Oetomo dengan maksud mengajarkan agama kepada para anggotanya.
Pelajaran-pelajaran yang diberikan Dahlan kelihatannya memenuhi harapan dan keperluan anggota-anggota Boedi Oetomo tadi. Sebagai bukti, mereka menyarankan agar Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa ditutup bila kyai yang bersangkutan meninggal dunia. Dahlan menuruti saran itu. Ia mendirikan Muhammadiyah dan keluar dari Boedi Oetomo. Demikianlah kisah K.H. Ahmad Dahlan dan awal mula berdirinya organisasi yang nantinya menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga. Wallahu A’lam Bish Shawab.

Agung Pribadi

Sejarawan, Peneliti di Yayasan Harkat Bangsa
Tags: biografi
Prev: Tentang Cinta
Next: RA Kartini: Memberontak dari Tradisi tapi Menyerah pada Tradisi

http://peaceman.multiply.com/journal/item/13/K.H._Ahmad_Dahlan_Reformis_dan_Pembaharu_Ajaran_Agama

dilanjutkan dengan :

Yunahar :•Ini Muhammadiyah, Bukan Dahlaniyah•
Kontribusi dari Arif Nur Kholis
Sabtu, 09 Pebruari 2008
Yogyakarta- Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang, termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini karena
dalam penentuan sebuah keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan bisa terjadi
tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas
ditengah Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Yogyakarta.
Yogyakarta- Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang, termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini
karena dalam penentuan sebuah keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan bisa
terjadi tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Demikian dikatakan Dr. Yunahar
Ilyas ditengah Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Yogyakarta.
Menurut Ketua PP Muhammadiyah yang dalam waktu dekat akan mendapat gelar Profesor tersebut, Kyai Haji Ahmad
Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh mahzab Syafi’i, termasuk mengamalkan qunut dalam shalat
subuh dan shalat tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdiriya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan Kyai Haji Mas
Mansyur, terjadilah revisi –revisi setelah melakukan kajian mendalam, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang
menuntunkan tidak dipraktikkannya do’a qunut di dalam shalat subuh dan jumlah rakaat shalat tarawih yag
sebelas rakat. “ Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik” tegas Yunahar. “Karena
ini Muhammadiyah bukan Dahlaniyah” ungkapnya setengah berkelakar. Yunahar lebih lanjut berkisah bahwa
dahulu ketika Ahmad Dahlan muda bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib yang saat itu juga
bersama Hasyim Asyari yang kemudian menjadi salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Karena Kyai Ahmad Khatib adalah
seorang ulama bermahzab Syafii, maka praktik ibadah Kyai Dahlan banyak yang mengikuti fiqh Mahzab Syafii. Hanya
saja, karena Kyai Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad Khatib untuk mempelajari Al Mannar, karya Rasyid Ridha,
maka Kyai Dahlan terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak bermahdzab.
“Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Mahzab Syafii yang dianut Mahzab Syafii, kalau suatu
masalah kuat Mahzab Hanafi, yang dianut Mahzab Hanafi” terang Yunahar. Hal inilah yang kemudian dianut
Muhammadiyah, termasuk dalam pengambilan Putusan Tarjih. (Arif)

http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=893

Salam,
Ny.Hj.Lenda Ariyati BcAk/caleg DPRD DKI III / PMB DAPIL 3, Jaktim/Jakarta Timur