Sepertinya sudah menjadi tradisi, tiap pergantian tahun selalu diwarnai dengan berbagai perubahan. Perubahan itu terlihat dari berbagai sisi, menyangkut masalah ekonomi, politik, hukum, HAM maupun sosial dan budaya, Siapapun boleh mencalonkan dirinya sebagai pemimpin bangsa. Dan Tidak harus melihat latar belakang kiprahnya dalam dunia politik, bahkan selebritipun mau mencalonkan diri tidak ada undang-undang yang melarangnya. Sepertinya sekarang ini begitu banyak orang yang berani dan percaya diri yang sekaligus kehilangan rasa malu. Banyak orang tak bercermin diri . Pokoknya mencalonkan diri jadi presiden. Walaupun sebenarnya bagai punguk merindukan bulan.

Setiap partai merasa partainya mampu mengatasi kemelut bangsa yang sudah terpuruk dan amburadul seperti sekarang ini. Modal utamanya, setiap partai akan mengumbar janji pada rakyat. Begitupun dengan para politikusnya yang dipersiapkan jadi caleg tentu saja telah mempersiapkan scenario yang berisi pepesan kosong. Meskipun pemilu sudah berulang kali gebyar pesta demokrasi ini, tapi nyatanya cuma legalitimasi panggung politik dagelan. Intinya dalam pesta tersebut, rakyat hanya jadi sapi perahan dan obyek pelengkap penderita. Mereka menggunakan nama rakyat untuk mencari kekuasaan dan kekuatan.Menyikapi kondisi ini, mahasiswa tidak mau kecolongan lagi. Kalau reformasi merupakan jembatan untuk menuju iklim demokrasi, nyatanya angka korupsi semakin membumbung tinggi. Begitupun dengan pelanggaran-pelanggaran atas HAM terus meningkat, termasuk rakyat yang menjadi korban digusur dan dihancurkan.Oleh karena itu, sangatlah ironis jika kondisi seperti sekarang ini dipertahankan. Rakyat hanya jadi kambing hitam dan bahkan menjadi bemper untuk merebut kekuasaan segolongan kelompok. Termasuk orang – orang yang tadinya memperguanakan atribut sebagai rezim Orla dan Orba, kini mereka melebihi sebagai orang-orang yang sangat reformasi. Tipu daya inilah merupakan salah satu indikasi politik, mereka mempergunakan lakon ”Topeng Monyet” supaya mereka tidak terbuka kedok wajahnya.

Hal ini sangat penting supaya dalam pembelajaran politik, rakyat tidak hanya dicekoki dengan janji-janji palsu. Rakyat juga punya jati diri yang jelas agar tidak lagi mau menjadi obyek penderitaan. Sebab, di tahun Monyet ini mereka akan menari-nari di atas penderitaan atas nama rakyat Indonesia dengan gaya dan perilaku sesuai denganmonyet.Pencegahan yang dilakukan secara dini, gerakan moral untuk tidak memilih politikus busuk merupakan sumber inspirasi yang perlu dan patut kita ikrarkan dalam kebersamaan visi dan misi terhadap bangsa ini. Jika tidak, maka kebusukan demi kebusukan akan terus menjadi bagian yang dapat membusukan nasib bangsa dan tanah air kita.Untuk itu perlu adanya gerakan moral yang bukan hanya menyiapkan minyak wangi pengalih perhatian dari bau kebusukan, melainkan perlu ada gerakan menyaring kader-kader bangsa yang bersih dari KKN.Sebab, tanpa adanya gerakan ini niscaya pemilu demi pemilu, hanya akan jadi ajang pestanya golongan bau tak sedap alias busuk. Kita tahu jumlah politikus busuk itu cukup banyak. Bisa dibayangkan bagaimana bau aroma politik Indonesia di tahun ini. seperti bau monyet kan?

Animal Regards,

Cindy

Achmad Zaenal Abidin at 3:37am February 7 wrote :
Sederhana saja jawabannya :
1. Gerakan anti plotisi busuk jangan hanya wacana saja, tetapi harus disebarluaskan termasuk lakukan demonstrasi disertai bukti bukti kebusukannya apa saja.
2. Gerakan anti politisi busuk juga harus ditambah dengan gerakan anti capres dan anti caleg tanpa program jelas, detail dan memungkinan dilaksanakan, lalu disosialisasikan sehingga rakyat tahu dan tidak akan memilih capres dan caleg yang tanpa program jelas, detail dan bisa dilaksanakan.
3. Gerakan anti politisi artis yang tidak kuasai/tidak mempunyai kompetensi/pengalaman terhadap masalah masalah undang undang dan manajemen perusahaan/negara.
4. Gerakan anti politisi muda yang baru lulus sekolah/kuliah dan belum pengalaman sama sekali dalam dunia kerja.